TEMBOK YA'JUJ MA'JUJ | DAJJAL | YA’JUJ DAN MA’JUJ | al jassasah | wasiat ali bin abi thalib kepada hasan | hilal awal bulan romadhon | bid'ah maulid | bid'ah tahlilan

Jumat, 07 Februari 2014

hikayat Al-Kahfi

Al-Kahfi
Penulis kitab Fadha'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300),
mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut
berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi, yang terjemahannya sebagai berikut: "Ingatlah
ketika pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung di dalam gua, kemudian mereka berdoa:
"Wahai Allah, Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisi-Mu…" Dengan panjang lebar
kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:
Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang
kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: "Hai Khalifah
Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami
hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi
jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar
dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi
jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi."
"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar.
"Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya
pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang
adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada
kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia
bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat
berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu
atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak)

di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang
berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan
oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang
meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?"
Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar, jika
ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui
jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!''
Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri
melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad
memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"
Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta
Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"
Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal
Hasan, selamatkanlah agama Islam!"
Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"
Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab.
Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai
burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika
Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru
memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu
kupanggil!"
Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu,
Ali bin Abi Thalib herkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul
Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai
seribu macam cabang ilmu!"
Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum
menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu
jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada
di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!"
"Ya baik!" jawab mereka.
"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.
Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?"
"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba
Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik
sampai ke hadhirat Allah!"
Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu
langit?"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan
selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"
Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar

juga!" Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah
kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"
"Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi
Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!"
Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk
yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan
bukan jin!"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud
alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut, masuklah ke dalam
tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam
keadaan mereka tidak sadar!"
Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima
jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhlukmakhluk
itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"
Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga,
Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma
menjadi seekor ular)."
Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta
penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada
tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"
Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai
Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan
mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan
kepada anda."
"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.
"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama
309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?"
Tanya pendeta tadi.
Ali bin Ali Thalib menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat
tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau,
akan kubacakan kisah mereka itu."
Pendeta Yahudi itu menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika
engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah
mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua
mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"
Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu
ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: "Hai saudara Yahudi,
Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi
di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus.
Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang,
kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki).
Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal
dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang

raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan
pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota
kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."
Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: "Jika engkau
benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan
ruangan-ruangannya!"
Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat
megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu
farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampulampu
yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu
bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan
dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang
cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak
mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah
singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia
80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di
sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan
penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota
di atas kepala."
Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: "Jika engkau benar-benar
tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?"
"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "mahkota raja itu terbuat dari kepingankepingan
emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya
laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang
pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju
sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya
dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari
emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang,
terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantupembantunya.
Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lehih dulu
dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di
sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri."
Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: "Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar,
coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!"
Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w.
menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing
bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di
sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding
dengan mereka mengenai segala urusan.
Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para
punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala
emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari
bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini
kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari
bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta
bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.
Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula.

Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya,
burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam
piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara
lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua
sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.
Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu
ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut,
demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan
sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan" dan tidak
mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.
Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat
dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa
yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh
sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua
orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan
menyembah Allah s.w.t.
Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan
mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada
balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak
melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa
disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh
terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan --
seorang cerdas yang bernama Tamlikha-- memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh
fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan
sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air
kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan."
Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang
dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima
orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi
Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: "Hai Tamlikha,
mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?"
"Teman-teman," sahut Tamlikha, "hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak
ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur."
Teman-temannya mengejar: "Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?"
"Sudah lama aku memikirkan soal langit," ujar Tamlikha menjelaskan. "Aku lalu bertanya pada
diriku sendiri: 'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan
terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah?
Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu
dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan juga bumi ini: 'Siapakah yang
membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan
gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali
memikirkan diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku?
Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada
yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius'…"
Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil
berkata: "Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam
hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!"

"Saudara-saudara," jawab Tamlikha, "baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain
harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!"
"Kami setuju dengan pendapatmu," sahut teman-temannya.
Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil
mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu
berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.
Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: "Saudarasaudara,
kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah
kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan
urusan kita serta memberikan jalan keluar."
Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki
mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.
Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu
mereka bertanya: "Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?"
"Aku mempunyai semua yang kalian inginkan," sahut penggembala itu. "Tetapi kulihat wajah
kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba
beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!"
"Ah…, susahnya orang ini," jawab mereka. "Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh
berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?"
"Ya," jawab penggembala itu.
Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka.
Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil
menciumi kaki mereka, ia berkata: "Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada
dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambingkambing
itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian."
Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk
mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan
kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."
Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi
sambil berkata: "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu
dan siapakah namanya?"
"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, "kekasihku Muhammad Rasul
Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama
Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata
kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita!
Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.
Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki
belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: "Hai orangorang,
mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah,
tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat
demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t."

Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik
ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua."
Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata:
"Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!"
Imam Ali menjelaskan: "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di
sebut juga dengan nama Kheram!"
Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan
berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang
tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua.
Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua
kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan
Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah
s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah
lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam
gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan
mereka dari arah kiri.
Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang
pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat
gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam
orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat
enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak
ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.
Kepada para pengikutnya ia berkata: "Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan
kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka
sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!"
Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan
batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para
pengikutnya: "Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu
tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka
dikeluarkan dari tempat itu."
Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.
Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka.
Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun
dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: "Malam tadi kami lupa
beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mataair!"
Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mataair itu sudah mengering kembali
dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka
mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: "Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan
bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa niendapatkan makanan? Tetapi yang
akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak
dengan lemak-babi."
Tamlikha kemudian berkata: "Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk
mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah
bajuku ini!"

Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia
melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang
belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia
melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah
Roh Allah."
Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata
seorang diri: "Kusangka aku ini masih tidur!" Setelah agak lama memandang dan mengamatamati
bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang
membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di
sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: "Hai tukang roti, apakah nama kota
kalian ini?"
"Aphesus," sahut penjual roti itu.
"Siapakah nama raja kalian?" tanya Tamlikha lagi. "Abdurrahman," jawab penjual roti.
"Kalau yang kaukatakan itu benar," kata Tamlikha, "urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah
uang ini dan berilah makanan kepadaku!"
Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang
zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.
Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib:
"Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang
lama itu dibanding dengan uang baru!"
Imam Ali menerangkan: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku,
bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama
sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!"
Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: "Aduhai,
alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang
itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan kuhadapkan kepada raja!"
"Aku tidak menemukan harta karun," sangkal Tamlikha. "Uang ini kudapat tiga hari yang lalu
dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena
orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!"
Penjual roti itu marah. Lalu berkata: "Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih
juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebutnyebut
seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati
lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?"
Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang
yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa
Tamlikha: "Bagaimana cerita tentang orang ini?"
"Dia menemukan harta karun," jawab orang-orang yang membawanya.
Kepada Tamlikha, raja berkata: "Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya
kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu
kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat."

Tamlikha menjawab: "Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah
penduduk kota ini!"
Raja bertanya sambil keheran-heranan: "Engkau penduduk kota ini?"
"Ya. Benar," sahut Tamlikha.
"Adakah orang yang kau kenal?" tanya raja lagi.
"Ya, ada," jawab Tamlikha.
"Coba sebutkan siapa namanya," perintah raja.
Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang
dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: "Ah…, semua
itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau
mempunyai rumah di kota ini?"
"Ya, tuanku," jawab Tamlikha. "Utuslah seorang menyertai aku!"
Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha
mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana,
Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: "Inilah rumahku!"
Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang
alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena
sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang:
"Kalian ada perlu apa?"
Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: "Orang muda ini mengaku rumah ini adalah
rumahnya!"
Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya:
"Siapa namamu?"
"Aku Tamlikha anak Filistin!"
Orang tua itu lalu berkata: "Coba ulangi lagi!"
Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki
Tamlikha sambil berucap: "Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orangorang
yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka." Kemudian diteruskannya dengan suara
haru: "Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa
as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka
itu akan hidup kembali!"
Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan
menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di
rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja
Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan
dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: "Hai Tamlikha, bagaimana keadaan temantemanmu?"
Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.

"Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam
dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya
masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua," demikian Imam Ali melanjutkan
ceritanya.
Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua,
Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: "Aku khawatir kalau
sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka
pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti
saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!"
Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha
datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada
Tamlikha mereka berkata: "Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari
Diqyanius!"
Tamlikha menukas: "Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah
kalian tinggal di sini?"
"Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja," jawab mereka.
"Tidak!" sangkal Tamlikha. "Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama
meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu
sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan
kalian!"
Teman-teman Tamlikha menyahut: "Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini
orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?"
"Lantas apa yang kalian inginkan?" Tamlikha balik bertanya.
"Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga," jawab mereka.
Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: "Ya Allah, dengan
kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami
alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!"
Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut
kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang
bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh
hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan
masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang
betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa
yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada
mereka.
Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku!
Akan kudirikan sebuah tempat ibadah di pintu guha itu."
Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: "Mereka mati dalam keadaan memeluk
agamaku! Akan kudirikan sebuah biara di pintu gua itu."
Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya
bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya
peristiwa tersebut, maka Allah berfirman, yang artinya: "Orang-orang yang telah memenangkan

urusan mereka berkata: 'Kami hendak mendirikan sebuah rumah peribadatan di atas mereka'…"
(S. Al Kahfi: 21).
Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua.
Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: "Itulah, hai Yahudi, apa
yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu,
apakah semua yang kuceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"
Pendeta Yahudi itu menjawab: "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi,
walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab
aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah
serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan
ummat ini!"
Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul
Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid
Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang
diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w.

KEUTAMAAN IMAM ALI R.A

Dalam riwayat yang ditulisnya, Ibnu Abbas mengatakan: "Demi Allah, Rasul Allah s.a.w. telah
memberi kepada Imam Ali sembilan-persepuluh dari semua ilmu yang ada, dan demi Allah,
Imam Ali masih juga mengetahui sebagian dari sepersepuluh ilmu sisanya yang ada pada kalian
atau pada mereka."
Mengenai hal itu cukuplah dikemukakan saja ucapan Rasul Allah s.a.w. yang menegaskan: "Aku
ini adalah kotanya ilmu atau kotanya hikmah, sedangkan Ali adalah pintu gerbangnya. Barang
siapa ingin memperoleh ilmu hendaknya ia mengambil lewat pintunya."
Allah s.w.t. telah melimpahkan nikmat tiada terhingga kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
berupa ilmu dan hikmah, sehingga ia menjadi orang yang paling banyak mengetahui dan
menguasai isi A1 Qur'an serta ajaran-ajaran Rasul Allah s.a.w. Dengan sendirinya ia pun
merupakan orang yang paling mampu menetapkan fatwa hukum Islam. Sebenarnya hal itu
bukan merupakKan satu kejutan, karena dia adalah satu-satunya orang muslim yang terdini
memeluk Islam dan hidup langsung di bawah naungan wahyu sejak masa kanak-kanak sampai
dewasa.
Sebuah riwayat hadits yang berasal dari Mu'adz bin Jabal mengatakan bahwa Rasul Allah s.a.w.
berkata kepada Imam Ali r.a.: "Engkau mengungguli orang lain dalam tujuh perkara. Tak ada
seorang Qureisy pun yang dapat menyangkalnya. Yaitu:
-Engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah,
-Engkau orang yang terdekat dengan janji Allah,
-Engkau orang yang termampu menegakkan perintah Allah,
-Engkau orang yang paling adil mengatur pembagian (ghanimah),
-Engkau orang yang paling berlaku adil terhadap rakyat,
-Engkau paling banyak mengetahui semua persoalan,
-dan Engkau orang yang paling tinggi nilai kebaikan sifatnya di sisi Allah."
Jadi, kalau Rasul Allah s.a.w. sendiri sudah menilai Imam Ali r.a. sedemikian lengkapnya,
tidaklah keliru kalau dikatakan, bahwa Imam Ali r.a. merupakan kualitas pilihan di kalangan
ummat Islam.

Fiqh
Orang yang paling lembut hatinya dan paling ramah di kalangan ummatku ialah Abu Bakar.
Demikian diungkapkan oleh Rasul Allah s.a.w. Sedang yang paling keras membela agama ialah
Umar Ibnul Khattab. Yang paling pemalu adalah Utsman bin Affan. Adapun Ali, ajar Rasul Allah
s.a.w. seterusnya, ialah yang paling tahu tentang hukum.
Pernyataan Rasul Allah s.a.w. tersebut merupakan masnad bagi uraian Abu Ya'la, sebagaimana
tercantum dalam kitab karya seorang penulis kenamaan As-Sayuthiy, yang berjudul Al Jami'us
Shaghir (jilid I halaman 58). Yang dimaksud dengan hukum bukan lain ialah hukum Islam, yaitu
Fiqh. llmu Fiqh merupakan salah satu cabang penting dari ilmu agama Islam.
Ilmu yang bersangkut-paut dengan semua ketentuan hukum Islam itu jelas sekali berpangkal
antara lain dari Imam Ali r.a. Boleh dibilang semua ahli Fiqh di kalangan kaum muslimin
menimba dan mengambil dasar-dasar ilmu pengetahuannya masingmasing dari Fiqh Imam Ali.
Rekan-rekan dan para pengikut Imam Abu Hanifah, seperti Abu Yusuf, Muhammad dan
sebagainya, semua berguru kepada Abu Hanifah.
Seorang ahli Fiqh terkemuka yang madzhabnya dianut oleh ummat Islam Indonesia, Imam
Syafi'iy, adalah murid Muhammad bin Al Hasan yang ilmunya berasal dari Abu Hanifah.
Tokoh pertama madzhab Hanbaliy, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal, adalah murid kinasih dan
terkemuka dari Imam Syafi'iy. llmu pengetahuan yang ditimbanya sudah tentu sama seperti
ilmu yang didapat oleh Imam Syafi'iy sendiri, yaitu berasal dari Imam Abu Hanifah.
Tokoh besar ilmu Fiqh, Abu Hanifah, menimba ilmu pengetahuan dari Ja'far bin Muhammad
Ibnul Hanafiyah. Ja'far adalah murid ayahnya sendiri, sedangkan ayahnya itu ialah murid dan
putera Imam Ali.
Tokoh pertama madzhab Malikiy, yaitu Imam Malik bin Anas, pun demikian juga. Ia menimba
ilmu pengetahuan tentang Fiqh dari Abdullah Ibnu Abbas. Sedangkan Abdullah Ibnu Abbas
sendiri diketahui dengan pasti bukan lain adalah murid Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Kalau ada
yang mengatakan bahwa ilmu Fiqh Imam Syafi'iy berasal dari Imam Malik, pangkal dan sumber
pokoknya berasal juga dari Imam Ali.
Fakta-fakta tersebut mengungkapkan kenyataan, bahwa 4 orang Imam Fiqh atau tokoh-tokoh
pertama empat madzhab Fiqh di seluruh dunia Islam sekarang ini, ilmu pengetahuan Fiqhnya
masing-masing berasal dari Imam Ali r.a. Tentu saja tak perlu diragukan lagi, bahwa ilmu Fiqh
yang ada di kalangan kaum Syi'ah pasti berasal dari Imam Ali. Seorang tokoh besar Islam
lainnya, Umar Ibnul Khattab r.a., dikenal dan diakui sebagai seorang yang banyak memecahkan
masalah-masalah yang berkaitan dengan hukum Islam. Namun ia tidak lepas dari pemikiran
Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Hal ini diakui sendiri olehnya ketika mengatakan: "Tanpa Ali
celakalah Umar!" Bahkan Khalifah yang terkenal keras, tegas, tetapi bijaksana dan arif itu
pernah juga mengucap-kan "Tidak ada kesukaran (hukum) yang tak dapat dipecahkan oleh Abul
Hasan (Imam Ali)."

Waktu melukiskan bagaimana wibawa dan wewenang Imam Ali dalam menetapkan fatwa
hukum, Khalifah Umar r.a. juga menegaskan: "Tidak ada seorang pun di dalam masjid yang
dapat memberikan fatwa hukum, bila Ali hadir."
Penguasaan, penafsiran dan penerapan hukum Islam oleh Imaln Ali r.a. dilakukan secara tepat
dan diakui kebenarannya oleh Rasul Allah s.a.w. Hal itu dibuktikan dengan diangkatnya Imam
Ali --pada masa itu-- sebagai qadhi (hakim) di Yaman. Ketika melepas saudara misan
kesayangannya itu Rasul Allah s.a.w. sempat berdoa: "Ya Allah, bimbinglah hatinya dan
mantapkanlah ucapannya." Sebagai tanggapan terhadap harapan Rasul Allah s.a.w. itu Imam Ali
r.a. berkata: "Mulai saat ini aku tidak akan ragu-ragu lagi mengambil keputusan hukum yang
menyangkut dua belah fihak."
Di antara banyak yurisprudensi, keputusan-keputusan hukum, yang dilahirkan oleh pemikiran
Imam Ali r.a. ialah yang menyangkut kasus perkara sebagai berikut: Kasus seorang isteri yang
melahirkan anak, padahal ia baru enam bulan menikah dengan suaminya. Yaitu suatu
penetapan hukum yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. berdasarkan Surah Al-Ahqaf ayat 15. Juga
Imam Ali-lah yang menetapkan fatwa hukum Islam tentang wanita hamil karena perbuatan
zina. Memecahkan masalah hukum Faraidh yang pelik dan rumit, yaitu hukum tentang
pembagian harta waris, Imam Ali r.a. sanggup melakukannya dengan cepat dan tepat.
Yurisprudensi ini lahir dari satu kasus yang terkenal dalam sejarah Fiqh dengan nama "Kasus
Minbariyyah". Kasus ini menarik para ahli hukum Islam maupun non Islam. Peristiwa ini terjadi
ketika Imam Ali r.a. sedang berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba ada seorang bertanya tentang
hukum yang berkaitan dengan pembagian waris antara dua orang anak perempuan, dua orang
ayah dan seorang perempuan. Seketika itu juga dan hanya dalam waktu beberapa detik saja,
tanpa ragu-ragu Imam Ali r.a. menjawab: "Seperdelapan yang menjadi hak perempuan itu
berubah menjadi sepersembilan!"
Dihitung secara matematik dan ditinjau dari sudut keadilan dan kebijaksanaan berdasarkan Al-
Qur'an, fatwa hukum Imam Ali r.a. tersebut mencapai record dalam memecahkan kasus
pembagian harta waris yang amat pelik dan rumit. Seorang ahli hukum Faraidh sendiri, walau
dengan bantuan alat kalkulator, baru dapat menemukan angka yang disebutkan oleh Imam Ali
r.a. kalau sudah menghitung-hitung dahulu selama beberapa saat. Masalah itu memang
merupakan masalah matematika yang cukup ruwet. Tetapi menurut kenyataan, fatwa Imam Ali
r.a. yang diambil dalam waktu beberapa detik itu setelah diuji dan diteliti secermat-cermatnya
berdasarkan hukum Al-Qur'an dan sunnah Rasul Allah s.a.w., terbukti benar dan tepat. Jelaslah
hanya orang yang betul-betul menguasai dasar-dasar hukum Fiqh sampai sedalam-dalamnya
sajalah yang dapat memberikan jawaban secepat itu!

Tafsir
Bagi orang awam, bahkan kaum ahli sekalipun, selalu menjumpai kenyataan bahwa tafsir Al-
Qur'an banyak sekali kaitannya dengan nama seorang ulama besar, Abdullah Ibnu Abbas. Ulama
ini memang terkenal sekali sebagai seorang ahli tafsir Al Qur'an. Abdullah Ibnu Abbas juga
seorang ulama yang dipercaya oleh Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. untuk
memberikan penafsiran tentang sesuatu ayat Al-Qur'an.
Sungguhpun demikian, ketika Abdullah Ibnu Abbas ditanya orang, bagaimana perbandingan ilmu
pengetahuan yang dimilikinya dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh "putera paman anda"
(Imam Ali r.a.), jawabnya sederhana saja: "Perbandingannya seperti setetes air hujan dengan
air samudera!" Jawaban itu tidak mengherankan. Bukan hanya karena ia rendah hati, melainkan
juga karena ia adalah murid Imam Ali r.a. sendiri. Dalam ilmu tafsir, nama dua orang itu
hampir tak pernah pisah sama sekali.
Benar sekali penyaksian Abu Fudhail yang mendengar sendiri Imam Ali r.a. berkata dari atas
mimbar: "Tanyakanlah kepadaku selama aku ada. Apa saja yang kalian tanyakan, aku sanggup
menjawab. Tanyakanlah tentang Kitab Allah. Demi Allah, tak ada satu ayat pun yang aku tidak mengetahui,
apakah ayat itu turun di waktu siang ataukah di waktu malam, di datarankah atau
di pegunungan."
Kata-kata Imam Ali r.a. itu bukan menunjukkan kesombongan, tetapi karena ia tampak jengkel
melihat ada orang yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan semena-mena. Dan apa yang
diucapkannya itu bukan kata-kata hampa yang tidak berbukti.
Menurut Ibnu Abil Hadid, Al-Madainiy meriwayatkan, bahwa dalam salah satu khutbahnya Imam
Ali r.a. pernah berkata: "Seandainya ada yang mengadu kepadaku karena bantalnya dirobek
orang, aku akan mengambil keputusan hukum. Bagi ahli Taurat berdasarkan Tauratnya, bagi
ahli Injil berdasarkan Injilnya, dan bagi ahli Al-Qur'an berdasarkan Qur'an-nya!"
Sungguh besarlah nikmat Allah yang dilimpahkan kepada putera Abu Thalib yang telah
menerima asuhan dan pendidikan manusia terbesar sepanjang sejarah, Nabi besar Muhammad
s.a.w.! Tidak keliru kalau tiga orang Khalifah sebelumnya memandang Imam Ali r.a. sebagai
penasehat ahli yang sama sekali tak dapat ditinggalkan fatwa-fatwanya.







WAJIB BERPEDOMAN PADA AL QURAN DAN AL HADIST
Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh Ta’ala merahmatimu– bahwasanya Alloh Ta’ala menurunkan dua wahyu berupa al-Qur’an dan al-Hikmah kepada Rosul-Nya dan mewajibkan kepada seluruh hamba untuk mengimani keduanya dan mengamalkan kandungannya. Alloh Ta’ala berfirman:
“Dan Alloh telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu.” (QS. an-Nisa [4]:113)
[Berdasarkan kesepakatan ulama salaf yang dimaksud dengan al-Kitab yaitu al-Qur'an dan al-Hikmah adalah Sunnah.[1
akan apa yang dikabarkan oleh Rosululloh  dari Robbnya, kewajiban kita adalah membenarkan dan mengimaninya. Hal ini merupakan pokok dasar yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin, tidak ada yang mengingkarinya
[kecuali orang di luar Islam.[2
Namun anehnya, muncul sebuah pemahaman sesat yang mencukupkan diri dengan al-Qur'an saja tanpa hadits Nabi. Lebih aneh lagi, tatkala pemikiran beracun ini diadopsi oleh sebagian pemikir dan penulis zaman sekarang.
Sekadar contoh, simaklah ucapan Agus Mustofa berikut:
“Kita bisa membayangkan, betapa riskannya kita memahami ucapan Nabi berdasarkan cerita dari orang lain. Bukannya kita tidak percaya tetapi harus hati-hati. Karena sangat boleh jadi orang-orang yang meriwayatkan hadits itu tidak paham 100 persen apa yang dimaksudkan oleh Nabi.
Seandainya Rasulullah sekarang ini masih hidup, kita pasti akan mengatakan: sami’na wa atho’na. Kami dengar dan kami taati. Tetapi karena hadits-hadits itu diceritakan berdasar kepada pemahaman maka kita harus menyeleksi dengan sangat ketat. Acuannya gampang. Cocokkan saja dengan al-Qur’an. Kalau ada hadits tidak sesuai dengan al-Qur’an maka bukan Qur’annya yang dikalahkan. Melainkan haditsnya yang harus disisihkan.
Maka, dalam hal azab kubur ini pun kita harus mengambil al-Qur’an sebagai sumber utama terlebih dahulu. Jika al-Qur’an ada, maka hadits-hadits itu berfungsi sebagai penjelasan. Akan tetapi jika di al-Qur’an tidak ada, kita harus menyeleksi secara ketat hadits-hadits tentang azab kubur. Apalagi yang bercerita tentang siksaan badan sebagaimana azab neraka, al-Qur’an tidak berbicara sedikitpun tentang siksaan badan dalam alam barzakh.”[3]
Kami katakan, bukankah ucapan ini termasuk pemikiran paham ingkar sunnah yang sesat dan menyesatkan?!! Oleh karenanya, pada kesempatan yang baik ini, sedikit ingin kami uraikan hadits yang menjadi pedoman paham sesat ini berikut komentar seputarnya. Hanya kepada Alloh w\ kita meminta ilmu yang bermanfaat.
TEKS HADITS
“Apa yang datang kepada kalian dariku maka cocokkan lah dengan al-Qur’an, bila cocok dengan al-Qur’an maka saya mengucapkannya dan bila menyelisihi al-Qur’an maka saya tidak mengucapkannya.”
LEMAH SEKALI. Diriwayatkan oleh al-Harawi dalam Dzammul Kalam: 2/78 dari Sholih al-Murri: Menceritakan kepada kami Hasan, dia berkata: Rosululloh n\ bersabda.

Sanad ini lemah, karena mursal[4], Hasan dalam sanad ini maksudnya adalah Hasan al-Bashri. Dan Sholih al-Murri yaitu Ibnu Basyir, dia lemah sekali. Disebutkan oleh adz-Dzahabi  dalam adh-Dhu’afa bahwa an-Nasa’i dan lainnya mengatakan tentangnya: “Dia ditinggalkan.” al-Hafizh  juga berkata dalam at-Taqrib: “Lemah.”
Hadits-hadits ini memiliki penguat-penguat lainnya tetapi semuanya parah, sehingga tidak bisa terangkat sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaukani  dalam al-Fawaid al-Majmu’ah hlm. 281.[5]
MENGKRITISI MATAN HADITS
Matan hadits ini pun munkar sebagaimana ditegaskan ulama. Imam Ibnu Abdil Barr menukil ucapan Imam Abdurrohman bin Mahdi : “Orang-orang zindiq dan Khowarij yang memalsukan hadits-hadits tersebut.”
Lalu katanya: “Lafadz-lafadz ini tidak shohih dari Nabi menurut ahli hadits. Bahkan sebagian ahli ilmu membalik hadits ini seraya mengatakan: Kita cocokkan terlebih dahulu hadits ini dengan al-Qur’an, ternyata kita dapati kandungan hadits ini menyelisihi al-Qur’an, karena kita tidak mendapati al-Qur’an memerintahkan agar kita tidak menerima hadits kecuali yang cocok dengan al-Qur’an, namun al-Qur’an hanya memerintahkan untuk mengikuti Rosululloh, mentaatinya dan melarang untuk menyelisihinya.”[6]
Ibnu Baththoh juga menukil ucapan as-Saaji : “Hadits ini dipalsukan atas nama Nabi.” Ali bin Madini berkata: “Hadits ini tidak ada asalnya, orang-orang zindiq yang membuat hadits ini.”
Ibnu Baththoh berkomentar: “Benar ucapan as-Saaji dan Ibnul Madini, sebab hadits ini menyelisihi al-Qur’an dan mendustakan pencetusnya. Hadits yang shohih dan sunnah Rosululloh menolak hadits ini…”
KESESATAN PAHAM INGKAR SUNNAH
Imam as-Suyuthi berkata: “Ketahuilah –semoga Alloh merahmatimu– bahwa orang yang mengingkari hadits Nabi yang shohih sebagai hujjah, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, maka dia telah kufur, keluar dari Islam dan dikumpulkan bersama orang-orang Yahudi, Nashoro dan kelompok-kelompok kafir lainnya.”[7]
Jauh-jauh hari, Nabi telah menginformasikan akan munculnya kelompok sesat seperti ini, yaitu dalam haditsnya yang shohih:
“Ketahuilah bahwa aku mendapatkan wahyu al-Qur’an dan juga semisalnya (hadits). Ketahuilah, hampir saja akan ada seseorang duduk seraya bersandar di atas ranjang hiasnya dalam keadaan kenyang, sedang dia mengatakan: Berpeganglah kalian dengan al-Qur’an. Apa yang kalian jumpai di dalamnya berupa perkara halal, maka halalkan lah. Dan apa yang kalian jumpai di dalamnya berupa perkara haram, maka haramkan lah.”[8]
Imam al-Baihaqi berkata: “Inilah khobar Rosululloh n/ tentang ingkarnya para ahli bid’ah terhadap hadits beliau. Sungguh apa yang beliau sampaikan telah nyata terjadi.”[9]
Syaikh Abu Hasan Ubaidulloh bin Muhammad ar-Rohmani mengatakan: “Hadits ini merupakan tanda di antara tanda-tanda kenabian. Sungguh, telah terbukti apa yang beliau kabarkan sebagaimana tidak asing lagi bagi penduduk India terutama penduduk Punjab dari Pakistan.”[10]
Al-Allamah al-Mubarokfuri mengatakan: “Hadits ini merupakan tanda di antara tanda-tanda kenabian. Sungguh telah terbukti nyata apa yang beliau kabarkan, karena ada seorang dari daerah Punjab (India) yang menamai dirinya dengan Ahlu Qur’an. Padahal, amatlah jauh antara dirinya dengan al-Qur’an.
Dahulu dia memang termasuk orang sholih, kemudian dia tersesat karena mengikuti langkah-langkah setan yang jauh dari jalan lurus. Akhirnya dia berbicara ngawur dengan perkataan yang tidak pernah diucapkan seorang muslim pun di dunia ini. Dengan lancangnya, dia menolak hadits-hadits Nabi n/ seraya berkata: Semua ini hanyalah dusta dan dibuat-buat saja. Kewajiban kita hanyalah mengamalkan kandungan al-Qur’an tanpa hadits-hadits Nabi, sekalipun toh shohih dan mutawatir. Barangsiapa tidak berbuat seperti demikian maka dia terancam dengan firman Alloh Ta’ala:
“Barangsiapa tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maidah [5]: 44)
Masih banyak lagi perkataan-perkataan kufur lainnya yang keluar dari mulutnya. Ironisnya, banyak sekali orang-orang bodoh yang terjebak dalam jaringnya sehingga mereka pun mengangkatnya sebagai imam. Sungguh, para ulama masa kini telah menghukumi dia kafir dan mengeluarkannya dari Islam. Dan perkaranya seperti yang mereka katakan.”[11
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani mengatakan: “Kelompok ini menamakan dirinya dengan al-Qur’aniyun (golongan al-Qur’an), padahal al-Qur’an berlepas diri dari mereka. Asumsi mereka, dalam memahami al-Qur’an tidaklah perlu memakai Sunnah Nabi, namun cukup hanya dengan bekal bahasa Arab. Padahal anda tahu sendiri bahwa bekal itu belum cukup bagi sahabat Jabir beserta sahabat-sahabat lainnya. Seperti yang telah kita ketahui bukankah mereka adalah orang-orang Arab tulen yang bahasa Arabnya istimewa dan al-Qur’an juga turun dengan bahasa mereka?! Lain halnya dengan kelompok al-Qur’aniyun ini. Mayoritas mereka –bahkan mungkin seluruh mereka– adalah orang-orang non-Arab.
Akhirnya, hasil dari pemahaman yang menyimpang ini, mereka keluar dari agama Islam dan mereka datang dengan membawa agama baru. Sholat mereka tidak seperti sholat kita, haji mereka tidak seperti haji kita, puasa mereka tidak seperti puasa kita. Dan –saya kurang tahu–, barangkali tauhid mereka juga tidak seperti tauhid kita.
Kelompok ini awalnya merajalela di India, kemudian merembet ke Mesir dan Syria. Saya pernah membaca salah satu kitab pedoman mereka yang berjudul ad-Dien tanpa nama pengarang. Saya katakan: Barangsiapa membaca kitab tersebut, niscaya dia akan mengetahui bahwa mereka telah keluar dari agama Islam. Semoga Alloh Ta'ala menghancurkan dua kelompok di atas tadi."[12]
PENUTUP
Kami akhiri tulisan ini dengan nasihat Imam al-Ajurri, beliau berkata: “Selayaknya bagi para manusia berilmu dan berakal, apabila mendengar seorang berhujjah dengan hadits Nabi yang shohih, kemudian ada seorang jahil menentangnya seraya mengatakan: Saya tidak mau menerima kecuali dari al-Qur’an saja. Maka katakan padanya: Kamu adalah manusia jahil yang diingatkan oleh Nabi dan para ulama. Kemudian katakan juga padanya: Wahai jahil, sesungguhnya Alloh telah menurunkan kewajiban-kewajiban-Nya secara global dan memerintahkan Nabi-Nya agar menjelaskan perinciannya kepada umat manusia. Alloh Ta’ala berfirman:
“Dan kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. an-Nahl [16]: 44)
Alloh Ta’ala menjadikan Nabi-Nya sebagai penjelas syariat-Nya dan memerintahkan kepada umat manusia agar menaati Nabi Muhammad serta menjauhi larangannya. Alloh Ta’ala berfirman:
“Apa yang diberikan Rosul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr [59]: 7)
Kemudian katakanlah kepada para pengingkar sunnah: Wahai jahil, Alloh Ta’ala berfirman:
“Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat.” (QS. al-Baqoroh [2]: 110)
Dari manakah engkau mengetahui bahwa sholat Shubuh dua roka’at, sholat Dhuhur empat roka’at, sholat Maghrib tiga roka’at, dan sholat Isya’ empat roka’at?! Dari manakah engkau mengetahui hukum-hukum seputar sholat, waktu-waktunya, syarat-syarat, dan pembatalnya?! Demikian pula zakat dan syariat-syariat Islam lainnya. Tidak akan dapat dipahami secara jelas, kecuali dari sunnah Nabi.

Inilah perkataan para ulama kaum muslimin. Barangsiapa mengatakan tidak seperti demikian, maka dia keluar dari agama dan memasuki agama para penyeleweng. Kita berlindung kepada Alloh Ta’ala dari kesesatan.”[13]
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rasulullah bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa hadir di tengah kalian lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka sungguh kalian telah tersesat dari jalan yang lurus. Kiranya Musa hidup dan menjumpai kenabianku, dia pasti mengikutiku. (Hasan. riwayat Ad-Darimi dalam Sunannya (441) dan Ahmad (3/471, 4/466) Lihat Al-Misykah (177) oleh Al-Albani).
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ibnu Abbas berkata: “Hampir saja kalian akan dihujani batu dari langit.
Aku katakan: Rasulullah bersabda demikian lantas kalian membantahnya
(dengan alasan)"Tapi Abu Bakar dan Umar berkata demikian?!” (Shahih. Riwayat Ahmad 1/337 dan Al-Khatib dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 1/145).

Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh rahimahullah berkata dalam kitabnya Taisir Aziz Al-Hamid hal. 483:

“Jikalau perkataan yang muncul dari Ibnu Abbas ini diperuntukkan pada orang yang menentang sunnah dengan pendapat Abu Bakar dan Umar yang telah diketahui bersama kedudukan mereka berdua, lantas bagaimana kiranya apa yang akan beliau katakan terhadap orang yang menetang sunnah nabi dengan dengan tokoh dan imam yang dianutnya? Lalu menjadikan pendapat orang tersebut sebagai tolok ukur Al-Qur’an dan sunnah, bila keduanya sesuai dengan pendapat tokohnya maka diterima dan bila bertentangan dengan pendapat tokohnya maka ditolak atau ditakwil. Kepada Allah kita memohon pertolongan”. (Lihat pula Al-Qaulul Mufid (2/152) oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah cet. Dar Ibnu Jauzi).
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi
================================================================
[1]     Imam asy-Syafi’i berkata: “Alloh menyebut al-Kitab yaitu al-Qur’an dan mengiringinya dengan al-hikmah. Saya mendengar para ahli ilmu tentang al-Qur’an yang saya ridhoi: “Al-Hikmah adalah sunnah Rosululloh.” (ar-Risalah hlm. 78)

[2]     Ar-Ruuh Ibnu Qoyyim hlm. 131 secara ringkas

[3]     Tak Ada Azab Kubur? hlm. 211-212. Dan lihat bantahan kami terhadap buku Agus Mustafa ini secara lebih terperinci dalam risalah kami yang berjudul Adakah Siksa Kubur? Cet. Pustaka Darul Ilmi, Bogor

[4]     Mursal: Suatu hadits yang diriwayatkan dari tabi’in langsung kepada Rosululloh. Dan mursal termasuk bagian hadits yang lemah. (Lihat Jami’ Tahshil fi Ahkamil Marasil oleh al-Ala’i hlm. 31)

==============================================================
TAMBAHAN

seorang ingkarussunnah beralasan cukup dengan Al-Quran saja namun ia lupa akan firman.. Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id bin Ma’la ra sedang shalat dan ia mendengar panggilan Rasul saw memanggilnya, maka Abu Sa’id meneruskan shalatnya lalu mendatangi Rasul saw dan berkata : Aku tadi sedang shalat Wahai Rasulullah.., maka Rasul saw bersabda : “Apa yang menghalangimu dari mendatangi panggilanku?, bukankah Allah telah berfirman “WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DATANGILAH PANGGILAN ALLAH DAN RASUL NYA BILA IA MEMANGGIL KALIAN”.(Al Anfal 24). (Shahih Bukhari hadits no.4204, 4370, 4426, 4720). Dan bahwa mendatangi panggilan Rasul saw ketika sedang shalat tak membatalkan shalat, dan mendatangi panggilan beliau lebih mesti didahulukan dari meneruskan shalat, karena panggilan beliau adalah Panggilan Allah swt, perintah beliau saw adalah perintah Allah swt, dan ucapan beliau saw adalah wahyu Allah swt... demikian silahkan kembali ke pengertian Al-Quran dan Hadits itu sendiri..

---------------------------------------------------------------------------------
 Dan orang-orang kafir berkata: "Al Qur'an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain"; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. (QS. Al-Furqan: 4)
Non-Muslim dan sebagian kelompok sesat (seperti JIL) berkata bahwa Islam adalah karangan Nabi Muhammad dan para shahabatnya. Tetapi jika ditanyakan kepada mereka, mana buktinya, mereka tidak bisa menunjukkan satu pun bukti yang dapat diterima. Ucapan mereka tidak lain hanya kosong belaka. Ucapan mereka tidak memiliki dasar pijakan yang kuat.
Justeru banyak dasar yang menunjukkan bahwa Islam ini adalah agama wahyu. Dan satu bukti diantaranya adalah peristiwa turunnya surat An-Nisa ayat 176.
Ketika itu Umar bin Khaththab bertanya mengenai harta kalalah (harta seseorang yang mati tanpa meninggalkan anak dan ayah). Padahal Umar adalah orang yang cerdas. Tetapi toh beliau tetap tidak berani menjadikan pendapat aqalnya sebagai syari?at. Mendengar pertanyaan itu Nabi Muhammad saaw tidak langsung menjawab. Padahal beliau seorang Nabi dan Rasul Allah. Kemudian turunlah ayat tersebut yang menjelaskan syari?at Allah mengenai harta kalalah.
Maka jelaslah bahwa Islam bukanlah karangan Nabi Muhammad saaw, dan bukan pula karangan para shahabat. Jika benar bahwa Islam itu adalah karangan Nabi Muhammad, mengapa tidak beliau gunakan saja pendapat aqal beliau untuk menentukan syariat? Jika benar bahwa Islam itu adalah karangan para shahabat, mengapa Umar bin Khaththab, seorang shahabat utama, seorang pengganti Nabi Muhammad saaw untuk memimpin ummat, tidak menggunakan pendapat aqalnya saja untuk menentukan syari?at? Inilah bukti yang jelas, bahwa Islam adalah agama wahyu. Adapun aqal hanya berfungsi untuk menggali wahyu yang berisi tuntunan syari?at dari Sang Pembuat Syari'at, Syari?, yaitu Allah SWT.
Jadi, tidak benar pendapat Mu'tazilah yang mengatakan bahwa dengan aqal saja, seseorang bisa selamat di dunia dan akhirat. Itu sama sekali tidak benar, sebab aqal semata tidak akan dapat menentukan bagaimana cara ibadah yang benar secara muthlaq, aqal juga tidak sanggup untuk menentukan bagaimana cara mengatur kehidupan dunia dengan benar secara muthlaq. Aqal memang tidak punya kapasitas untuk itu. Namuin demikian aqal memang memiliki kemampuan untuk menggali dan memahami keinginan Syari? (Allah) yang terdapat dalam Firman-Nya. Untuk menentukan hukum, aqal digunakan untuk menggali nash. Walau pun hadits Nabi merupakan salah satu sumber, tetapi perlu diingat bahwa tidaklah Nabi berkata dan berbuat kecuali dengan bimbingan wahyu. Jadi bukanlah Nabi itu memiliki otoritas untuk membuat syariat. Nabi hanya berucap dan berbuat sesuai apa yang diwahyukan kepadanya. Hadits hanyalah penjelasan atas wahyu. Jadi sekali lagi, Islam bukanlah karangan Nabi Muhammad saaw. Tidak benar apa-apa yang dikatakan orang-orang sesat itu.

Kemudian orang-orang sesat seperti JIL juga menyatakan bahwa ilmu Fiqh yang disusun para imam madzhab adalah Arabisme. Ini adalah tuduhan bohong dari orang-orang yang ingin menjauhkan ummat Islam dari syariat Islam yang benar. Mereka ingin menghapus syariat Islam yang mereka anggap sebagai Arabisme. Jika sudah hilang Syariat Islam itu, maka hukum yang dipakai kemudian adalah hukum liberalisme yang mengedepankan kebebasan hewani. Sekarang terbukti bahwa JIL tidak mengajarkan Islam yang benar. Mereka hanya menginginkan Liberalisme, suatu paham karangan manusia-manusia sesat.
 ===========================================
BAGAI MANA JIKA MENGIKUTI KAJIAN MEREKA...KAN JUGA SEBAGIAN ADA BENARNYA???
sedikt banyak akan ada pendustaan terhadap Al-Quran dan Al-Hadits terkecuali sdr Bimar  hafal al-Quran dan memahami tafsir serta asbabul nuzul dan hafal hadits, asbabul wurud dan syarahnya serta mengetahui pendapat para sahabat, dan para ulama baik salaf maupun kholaf dalam kajian mereka yang menjauhkan sdr untuk dapat memilih dan membenarkan hal yang memang benar. karena banyak saya temukan kitab, artikel atau isi radio yang tak sama dengan para pendahulu kita. karena dipalsukan, mendustakan, memotong-motong, mendhozlimi, memilih-milih, meletakkan ayat dan hadits serta menghukum seenaknya dan semaunya saja, bahkan meninggalkan. saya kasih contoh dari luar.. pujian lagu nasrani dan bibble yang berasal dari kristen ortodok arab sangat mirip dengan qiroat al-Quran jika tak mengetahui maka tertipu.. saran saya lebih baik mengaji langsung pada ulama jangan lewat radio.. dinegara kita banyak pesantren kok sdrku...
--------------------------------------------------------
insyaallah tak ada perbedaan ketika hal yang disampaikan tak keluar dari hal yang telah dijelaskan dari zaman Rosulullah hingga para ulama masa kini yang terus menerus mengikuti dan tak menyeleweng. saya kasih contoh : ada orang yang bodoh, ia tak taat, selalu bermaksiat namun ia takut dengan Allah dan Rosul ketika ada yang menanyakan hukum padanya dengan apa yang ia lakukan maka ia akan menjawab bahwa apa ia lakukan adalah hal yang dosa dan salah menurut agama dan sesuai dengan pendapat dari zaman Rosulullah hingga para ulama kholaf yang mengikuti maka ia lebih baik dari pada pendapat para ulama minal juhala yang menyewengkan agama. karena ia tak ingin orang lain tersesat olehnya sama dengannya walaupun ia sendiri masuk lubang biawak, namun berbeda dengan ulama minal juhala selain ia tersesat mengajak orang lain juga sesat walaupun ia tak mengakui kesesatannya setelah datang kebenaran padanya.


guru boleh beda, pesantren boleh beda, pengajian boleh beda, majlis boleh beda, gaya penyampaian boleh beda namun isi yang disampaikan mestilah sama karena satu rumpun para ulama salaf hingga kholaf dalam satu kesanadan. tak mungkin berbeda jika berbeda, tanyakan kenapa dan ada apa? insyaallah berbeda sdrku karena yang haq dan yang batil itu berbeda bagaikan air dan minyak.
===============================================
ulama adalah orang yg mengajar ilmu syariah, syariah adalah seluruh ajaran hukum islam, berupa Tauhid, Fiqih, terkait pada Alqur'an dg tafsirnya, Hadits dg asbab nya, dan seluruh ajaran yg ada pada islam, itu disebut ilmu syariah, yaitu ilmu ilmu yg diajarkan oleh Rasul saw untuk hal hal yg dhohir. Ulama yg diikuti adalah ulama yg baik, bukan pencaci, mengamalkan sunnah, luas pemahaman ilmunya, dan mempunyai guru orang shalih pula, dan ia masih tetap memanut gurunya yg shalih dan alim itu, pastikan ia mempunyai sanad hingga Imam Madzhab dan Rasul saw, yaitu ia berguru pada gurunya yg shalih dan ulama besar, dan gurunya mempunyai guru yg shalih dan ulama masyhur pula, demikian jalur sanadnya hingga Rasul saw,

insya Allah kita tak akan tersesat. yang perlu berhati-hati/dijauhi ulama suu' adalah orang jahat yg mengaku ulama, tak berilmu atau berilmu syariah, namun menyesatkan ummat, dan Rasul saw bersabda : aku lebih risau akan ulama suu' daripada dajjal, karena dajjal diketahui orang, sedang ulama suu' sebagian orang mengiranya pembimbing pada keluhuran, padahal ia pembimbing ke neraka. (naudzubillah).




SIKSA KUBUR SEBUAH AKIDAH YANG ABSOLUT
 Aqidah dan Manhaj
 Sesungguhnya keyakinan adanya adzab kubur merupakan salah satu di antara akidah Islam yang absolut berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak. Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk memahami akidah ini. Terlebih pada saat ini, ketika pemikiran-pemikiran bid’ah bermunculan dengan gencar yang dimotori oleh sebagian gerakan yang menghidupkan kembali kesesatan Khowarij dan sebagian Mu’tazilah yang mengingkari adzab kubur.Tidak perlu jauh-jauh, di hadapan penulis ada dua buku berbahasa Indonesia yang ditulis dengan tanpa malu dalam menyebarkan paham sesat dan menggoyahkan akidah umat. Dua buku yang kami maksud tersebut adalah:

Absahkah Berdalil Dengan Hadits Ahad Dalam Masalah Akidah Dan Siksa Kubur?! Karya Syamsuddin Ramadlan. Pengantar DR. Abdurrahman al-Baghdadi, cet Hanifah Press, Jakarta 2001.
Tak Ada Adzab Kubur? Karya Agus Mustofa, cet. Padma Press, Surabaya, Jatim.
Tulisan berikut merupakan salah satu partisipasi seorang hamba yang lemah dalam menjelaskan masalah ini serta membedah beberapa syubhat seputarnya. Kita berdo’a pada Alloh Ta’ala agar menjadikan tulisan ini ikhlas karena mengharap pahala dari-Nya dan bermanfaat bagi kita semua serta petunjuk bagi saudara kita yang tersesat jalan atau masih bingung mengenai nya.



A.    DALIL-DALIL AL-QUR’AN
Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa masalah adzab kubur telah dijelaskan oleh Alloh Ta’ala dalam banyak ayat di kitab-Nya.[2] Berkata imam al-Qostholani: “Sebagian kelompok beranggapan bahwa adzab kubur tidak disebutkan dalam al-Qur’an tetapi hanya disebutkan dalam hadits-hadits Ahad. Oleh karenanya pengarang (Imam Bukhori) menyebutkan beberapa ayat yang menunjukkan siksa kubur untuk membantah mereka.”[3]
Cukuplah firman Alloh q\:
“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghofir [40]: 46)
            Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini merupakan landasan pokok bagi Ahli sunnah untuk menetapkan adanya siksa kubur.”[4]
Imam as-Suyuthi berkata dalam kitab al-Aja’ib oleh al-Kirmani dikatakan bahwa “ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang adanya siksa kubur.”[5]
Dan masih banyak lagi lainnya seperti surat dalam Ibrohim [14]: 27, Thoha [20]: 124, Nuh [71]: 25, at-Taubah [9]: 101 al-An’am [6]: 93, as-Sajdah [32]: 101, al-Mu’minun [23]: 99, ath-Thur [52]: 47, al-Waqi’ah [56]: 83-94, an-Nahl [16]: 32 dan sebagainya. Tentu semuanya dengan bantuan kitab-kitab tafsir dan hadits para ulama Salaf terkemuka. Sungguh benar imam Ibnul Qoyyim tatkala berkata: “Apabila anda menghayati hadits-hadits seputar siksa dan nikmat kubur, niscaya anda akan mendapatinya telah menjelaskan dan memperinci makna ayat al-Qur’an”.[6]
B.     DALIL-DALIL HADITS NABI
Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Alloh Ta’ala merohmatimu-, bahwa hadits-hadits tentang adanya adzab kubur banyak sekali. Bahkan mencapai derajat mutawatir, diriwayatkan oleh para imam sunnah dan ahli hadits dari sejumlah sahabat di antaranya Anas bin Malik, Abdulloh bin Abbas, Bara’ bin Azib, Umar bin Khoththob, Ummul Mukminin ‘Aisyah, Asma’ binti Abu Bakar, Abu Ayyub al-Anshori, Ummu Kholid, Abu Huroiroh, Abu Said al-Khudri, Samuroh bin Jundub, Utsman, Ali, Zaid bin Tsabit, Jabir bin Abdulloh, Sa’ad bin Abi Waqosh, Zaid bin Arqom, Abu Bakroh, Abdurrohman bin Samuroh, Abdulloh bin Amr bin Ash, Amr bin Ash, Ummu Mubasysyir, Abu Qotadah, Abdulloh bin Mas’ud, Abu Tholhah, Abdur Rohman bin Hasanah, Tamim ad-Daariy, Hudzaifah, Abu Musa, Nu’man bin Basyir, dan Auf bin Malik.[7]
Para ulama ahli hadits telah menegaskan bahwa hadits-hadits tentang adzab kubur mencapai derajat mutawatir. Di antaranya adalah Imam Ibnu Abi Ashim,[8] Imam Ibnu Abdil Barr, [9] Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah,[10] al-Hafidz Ibnu Rojab,[11] dan lain-lain banyak sekali.
Kita pilih satu hadits saja di antaranya yaitu hadits;
Dari Abu Huroiroh ,berkata Rosululloh, “Jika salah satu dari kalian duduk tasyahud (akhir) maka hendaknya berlindung kepada Alloh dari empat perkara. Hendaknya berdo’a, “Ya Alloh sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari siksa neraka Jahanam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati serta jeleknya fitnah Dajjal.” [12]
Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat penetapan adanya adzab kubur dan fitnah kubur. Hal ini merupakan madzhab ahli haq, berbeda halnya dengan pendapat Mu’tazilah.[13]
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari adzab kubur.”[14]
C.    DALIL IJMA’
Para ulama Salaf telah bersepakat menetapkan adanya adzab kubur. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Adzab kubur itu haq, tidaklah diingkari kecuali oleh orang yang sesat dan menyesatkan.”[15] Imam Abul Hasan al-Asy’ari berkata: “Mereka (Ahlus Sunnah) telah bersepakat bahwa adzab kubur itu haq.” [16] Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Tidak ada perselisihan antara Ahlu Sunnah tentang Iman adanya adzab kubur.”[17] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ini merupakan akidah seluruh kaum Salaf, Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Pengingkarnya hanyalah segelintir dari kalangan ahli bid’ah.
Demikianlah dalil-dalil al-Qur’an, hadits mutawatir dan ijma’ kaum muslimin yang sangat otentik tentang adanya siksa kubur. Maka akankah seorang yang mengaku beriman kemudian masih meragukan hal ini?!
Setelah membawakan beberapa hadits dan atsar tentang siksa kubur, Imam al-Ajurri berkata: “Alangkah jeleknya keadaan orang-orang yang mengingkari hadits-hadits ini. Sungguh mereka telah tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.”[18]
SYUBHAT DAN JAWABANNYA
Ketahuilah wahai saudaraku-semoga Alloh Ta’ala merohmatimu- bahwa memahami akidah yang mulia ini adalah kewajiban bagi setiap muslim. Apalagi dengan adanya gerakan yang menghidupkan kembali kesesatan Khowarij dan sebagian Mu’tazilah yang mengingkari adanya adzab kubur. Syubhat yang mereka lontarkan yaitu:
Pertama: Adzab kubur adalah Irasional
Kedua: Adzab kubur hanyalah masalah khilafiyah.
Ketiga: Dalil-dalil tentang adzab kubur saling bertentangan.
Kita memohon pertolongan kepada Alloh Ta’ala untuk memberikan sanggahan terhadap syubhat-syubhat tersebut.
Syubhat pertama:
Adzab kubur itu Irasional, tidak masuk akal, buktinya kalau kita bongkar kuburannya, tidak kita jumpai perubahan keadaan, pertanyaan malaikat, nikmat dan siksa kubur.
Jawaban:
Syubhat ini berasal dari kaum ateis dan zindiq yang telah dibantah secara panjang lebar oleh imam Ibnu Qoyyim dalam kitabnya ar-Ruuh hlm.112-131 dari sepuluh segi. Cukuplah bagi kita untuk menjawab dengan tiga segi berikut:
Sesungguhnya adzab kubur telah tetap berdasarkan dalil yang qoth’i (pasti), yaitu al-Qur’an, hadits mutawatir dan ijma’ ulama Salaf.
Maka pantaskah kita mengingkarinya hanya karena akal kita belum menjangkaunya?! Apakah akal dapat menjangkau segala sesuatu? Bukankah Alloh Ta’ala telah berfirman:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit.” (QS. al-Isro’ [17]: 85)
Adzab kubur termasuk perkara ghoib, sedangkan kewajiban kita adalah beriman terhadap perkara ghoib.
Alloh Ta’ala berfirman ketika menyifati para hamba-Nya yang bertakwa:
“Yaitu orang-orang yang beriman dengan perkara ghoib.” (QS. al-Baqoroh [2]: 3)
Makna al-ghoib adalah setiap perkara yang diinformasikan oleh Rosululloh di luar kapasitas akal manusia, seperti tanda-tanda dekatnya hari kiamat, siksa kubur, kebangkitan dari kubur, perkumpulan manusia di alam mahsyar, jembatan, timbangan, surga dan neraka. Semoga Alloh q\ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang beriman.[19]
Sesungguhnya adzab dan nikmat kubur hanya dapat dirasakan oleh mayit dan tidak dirasakan oleh orang selainnya. Hal ini tidak aneh. Tidakkah engkau perhatikan seorang yang bermimpi, apabila dia bermimpi indah, maka dia akan merasakan kegembiraan tersendiri yang tidak dirasakan selainnya sekalipun ada orang yang berada di dekatnya!!. Demikian pula sebaliknya. Apabila ini bisa terjadi di dunia, maka apa yang memustahilkan untuk terjadi di alam barzakh?!.
Syubhat kedua:
Adzab kubur hanyalah masalah khilafiyah
Jawaban:
Benar, ini adalah masalah khilafiyah (perselisihan) tetapi antara siapa? Apakah antara para sahabat Nabi , tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para ulama salaf!? Demi Alloh, engkau tidak akan jumpai sekalipun kalian bersatu padu mencarinya. Karena perselisihan ini tidak dikenal kecuali setelah generasi utama yang diprovokasi oleh kelompok Khowarij dan Mu’tazilah.
Imam Abul Hasan al-Asy’ari berkata: “Mereka berselisih tentang adzab kubur. Di antara mereka ada yang meniadakannya yaitu Mu’tazilah dan Khowarij, sebagian lagi menetapkannya yaitu mayoritas ahli Islam.”[20]
Beliau juga berkata: “Kaum Mu’tazilah mengingkari adzab kubur, padahal telah diriwayatkan dari Nabi dari jalan yang banyak, demikian pula dari sahabatnya. Tidak pernah dinukil dari seorangpun dari mereka, bahwa mereka ada yang mengingkarinya, meniadakan dan menolaknya. Dengan demikian, maka hal itu harus menjadi ijma’ (konsensus) para sahabat nabi.”[21
Adapun ulama salaf, maka mereka telah bersepakat menetapkan adanya adzab kubur, sebagaimana penjelasan di atas.
Dengan demikian kita dapat memahami bahwa paham ingkar adzab kubur bukanlah paham para sahabat, tabi’in dan para ulama Salaf, namun merupakan paham Khowarij dan Mu’tazilah.[22]
Jelaslah kiranya bagi kita semua sekarang bahwa masalah ini bukanlah masalah khilafiyah yang bisa ditoleransi seperti dalam masalah hukum fiqih, tetapi ini adalah permasalahan akidah dan ijma’ salaf. Kalaulah disebut masalah khilafiyah, maka ini adalah khilaf (perselisihan) antara ahli haq dan ahli batil, ahli sunnah dan ahli bid’ah.[23]
Tidak seluruh perselisihan itu dianggap
Kecuali perselisihan yang memang memiliki dalil yang kuat.[24]

SYUBHAT KETIGA:
Dalil-dalil tentang adzab kubur saling bertentangan.
Jawaban:
Kita harus yakin bahwa selamanya tidak mungkin terjadi kontradiksi antara al-Qur’an dengan al-Qur’an atau al-Qur’an dengan hadits yang shohih. Karena semuanya adalah haq dari Alloh Ta’ala, sedangkan al-haq tidak mungkin kontradiktif. Alloh Ta’ala berfirman:
 “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. an-Nisa [4] : 82)

Kita juga harus yakin bahwa para sahabat Rosululloh adalah generasi yang paling unggul dalam memahami al-Qur’an.[25] Maka tanyakanlah kepada mereka: “Apakah ada sahabat nabi -walaupun hanya seorang- yang menafsirkan ayat-ayat di atas seperti penafsiran kalian yakni meniadakan siksa kubur?! Apakah para sahabat nabi jahil dengan tafsir ayat tersebut, sedang kalian mendapat petunjuk?! Lantas, kenapa tidak ada seorang pun dari mereka yang meniadakan siksa kubur?! Kaliankah yang benar atau mereka?!
Semoga Alloh merohmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tatkala mengatakan: “Apabila para sahabat, tabi’in dan para imam memiliki penafsiran ayat, kemudian datang suatu kaum yang menafsirkan ayat tersebut dengan penafsiran baru untuk menguatkan pemikiran yang dianutnya, dan pemikiran tersebut bukanlah termasuk madzhab sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka sesungguhnya mereka telah menyerupai kaum Mu’tazilah dan selainnya dari kalangan ahli bid’ah dalam masalah seperti ini. Singkat kata, siapa saja yang menyimpang dari madzhab dan penafsiran para sahabat dan tabi’in, maka dia salah bahkan terjatuh kebid’ahan.” [26]



FAKTOR PENYEBAB SIKSA KUBUR
            Siksa kubur memiliki beberapa faktor penyebab, di antaranya sebagaimana yang disebut dalam hadits berikut:
“Dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Nabi pernah melewati dua kuburan, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya penghuni kubur sedang disiksa, keduanya tidak disiksa dalam masalah yang berat, salah satunya karena tidak menjaga dari air kencing, adapun yang kedua dia suka mengadu domba. Lalu beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua dan menancap kan pada masing-masing kubur satu buah. Mereka bertanya: “Ya Rosululloh, kenapa kamu lakukan hal ini? Beliau menjawab: Agar diringankan siksa keduanya selama belum kering.”[27]
Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang sebagian faktor penyebab adzab kubur, yaitu meremehkan najisnya air kencing dan namimah. Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata: “Sebagian ulama menyebutkan rahasia dibalik pengkhususan “kencing dan namimah” sebagai faktor siksa kubur, yaitu karena alam kubur adalah rumah utama menuju kampung akhirat.
Kemaksiatan yang akan diberi balasan besok pada hari kiamat ada dua macam: Hak Alloh Ta’ala dan hak hamba. Hak Alloh Ta’ala pertama kali yang diadili adalah sholat, sedang hak hamba adalah darah. Adapun barzakh adalah tempat untuk mengadili perantara dua hak tersebut. Perantara sholat adalah suci dari hadats dan najis, sedangkan perantara pertumpahan darah adalah namimah dan mencela kehormatan. Jadi dalam alam barzakh dimulai untuk membalas kedua perantara tersebut.”[28]
WAKTU SIKSA KUBUR
Hadits di atas juga menjelaskan tentang waktu siksa kubur, apakah seterusnya hingga hari kiamat ataukah hanya sementara?! Jawabannya diperinci: Bagi orang kafir, maka siksaannya kekal sampai hari kiamat, seperti kaum Nuh dan pengikut Fir’aun, mereka akan tetap disiksa hingga kiamat tiba. Adapun bagi orang mukmin yang bermaksiat, maka siksaan mereka tidak kekal, bisa lama atau bisa juga sebentar sesuai dengan dosa dan ampunan Alloh Ta’ala.[29]
MENGAPA SIKSA KUBUR TIDAK DINAMPAKKAN?
Merupakan hikmah mengapa Alloh Ta’ala tidak menampakkan siksa kubur bagi manusia adalah:
Untuk menutupi aib mayit.
Untuk menenangkan keluarga mayit.
Sebagai kasih sayang kepada manusia.
Karena Alloh Ta’ala mengetahui bahwa manusia tidak akan kuat melihatnya. Mungkin kita akan selalu dibayangi dengan ketakutan manakala adzab itu ditampakkan.
Untuk menguji keimanan seorang terhadap masalah ghoib.
Seandainya dinampakkan berarti apa faedahnya ujian, sebab manusia akan beriman kepada sesuatu yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka. Berbeda halnya bila tidak nampak maka hanya akan diimani oleh orang yang beriman saja.[30]


JENIS-JENIS SIKSA KUBUR
Siksa Kubur memiliki beberapa jenis siksaan:
Dipukul dengan palu besi sehingga berteriak keras.
“Dari Anas dari Nabi, beliau bersabda: “Seorang hamba apabila dipendam di kuburnya, dan orang-orang yang mengantarnya telah berpaling meninggalkannya, maka dia mendengar suara sandal mereka. Lalu datanglah dua malaikat kemudian menyuruhnya duduk seraya bertanya padanya: Apa yang kamu katakan tentang Muhammad? Dia menjawab: Saya bersaksi bahwa dia adalah hamba Alloh dan Rosul-Nya, maka dikatakan padanya: Lihatlah calon tempat mu di neraka telah diganti oleh Alloh tempat di surga. Nabi bersabda: Maka dia melihat keduanya. Adapun orang kafir atau munafiq maka dia menjawab: Saya tidak tahu, aku mengatakan apa yang diucapkan manusia. Lalu dikatakan padanya: “Kamu tidak tahu, kemudian dia dipukul dengan palu dari besi satu pukulan di antara dua telinganya, sehingga dia berteriak dengan teriakan yang bisa didengar oleh sekitarnya kecuali jin dan manusia.”[31]
Dihimpitkan kuburnya
“Dari Baro’ bin Azib berkata: Rosululloh  bersabda: “…Adapun orang kafir, maka dia dikembalikan ruhnya dan didatangi dua malaikat dan menyuruhnya duduk seraya mengatakan: Siapa Robbmu? Dia menjawab: Ha, ha, ha, saya tidak tahu. Malaikat bertanya: Apa agamamu? Dia menjawab: Ha, ha saya tidak tahu. Malaikat bertanya lagi: Siapakah lelaki yang diutus kepadamu? Dia menjawab: Ha, ha saya tidak tahu. Maka ada seruan dari langit: Hamba ini berdusta, maka bentangkan tempat untuknya dari neraka dan pakaikan untuknya ……………dari neraka dan bukakan untuknya pintu ke neraka. Akhirnya datanglah kepadanya udara panas lagi beracun dan dihimpit kan baginya kuburannya hingga bengkok semua tulangnya. Dalam hadits Jarir ada tambahan: “Kemudian diutus kepadanya seorang yang buta dan tuli dengan membawa alat pukul dari besi yang seandainya dipukul kan ke gunung maka dia menjadi tanah. Setelah itu dia dipukul sehingga dia berteriak dengan teriakan yang didengar oleh Jin dan manusia sehingga dia menjadi tanah.”[32]

Digigit ular berbisa
“Dari Abu Huroiroh dari Rosululloh, beliau bersabda: Sesungguhnya seorang mukmin di kuburnya dalam taman yang hijau dan di luaskan kuburnya tujuh puluh hasta, dan diberi penerang seperti malam bulan purnama. Tahukah kalian tentang apakah ayat ini turun? “Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thoha [20]: 123-124) Mereka menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih tahu.” Beliau n\ bersabda: “Adzab orang kafir di kuburnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dia akan serang oleh sembilan puluh sembilan tinnin, tahukah kalian apa itu tinnin? Tujuh puluh ular, setiap ular memiliki tujuh kepala yang menghisapnya hingga hari kiamat.”[33]


Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar